<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kisah &#8211; Nababan Foundation</title>
	<atom:link href="https://www.nababanfoundation.org/category/kisah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.nababanfoundation.org</link>
	<description>Jonathan Nababan and Dora Tobing Foundation</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 Nov 2022 11:42:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>
	<item>
		<title>Kisah Orang Tua Panda Nababan</title>
		<link>https://www.nababanfoundation.org/sepasang-guru-muda-idealis/</link>
					<comments>https://www.nababanfoundation.org/sepasang-guru-muda-idealis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[writer]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2022 10:02:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.nababanfoundation.org/?p=3600</guid>

					<description><![CDATA[Panda Nababan merupakan seorang anak bangsa yang lahir pada tanggal 13 Februari 1944 di Tapanuli Utara. Tepatnya disebuah desa yang terletak di punggung bukit barisan, tingginya sekitar 1.200 meter diatas permukaan laut Sumatra Utara. Desa tersebut bernama Siborong-borong, yang sekarang sudah layak disebut sebagai kota karena jaraknya hanya sekitar 16 kilometer dari Bandar Udara Internasional [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Panda Nababan merupakan seorang anak bangsa yang lahir pada tanggal 13 Februari 1944 di Tapanuli Utara. Tepatnya disebuah desa yang terletak di punggung bukit barisan, tingginya sekitar 1.200 meter diatas permukaan laut Sumatra Utara. Desa tersebut bernama Siborong-borong, yang sekarang sudah layak disebut sebagai kota karena jaraknya hanya sekitar 16 kilometer dari Bandar Udara Internasional Silangit.</p>



<p>Beliau merupakan seorang yang memiliki pergaulan cukup luas, meliputi bermacam kalangan dari berbagai latar belakang. Mulai dari aktivis sampai politisi. Mulai dari jurnalis sampai pekerja seni.Mulai dari pengusaha sampai pemuka agama. Mulai dari rakyat kecil sampa pejabat tinggi negara, termasuk beberapa Presiden.</p>



<p>Sama seperti yang lainnya, kehidupan seorang Panda Nababan juga dihadapkan dengan beberapa gelombang dasyat dalam mengarungi samudra hidupnya. Beberapa kali bahkan ia harus mendekam dibalik jeruji besi karena aktivitas politik yang dilakukannya.</p>



<p>Panda adalah nama panggilannya sejak kecil, akan tetapi nama tersebut bukan diambil dari beruang cina. Panda merupakan kependekan dari Pandapotan. Pandapotan Maruli Asi Nababan, nama tersebut diberikan oleh kedua orang tuanya. Ia merupakan anak kesepuluh dari sebelas bersaudara. Ada delapan anak laki-laki termasuk dirinya dan tiga anak perempuan.</p>



<p>Berbeda dari saudara-saudaranya yang lain, setiap rangkaian namanya murni diambil dari bahasa batak. Pandapotan Maruli Asi Nababan memiliki arti ‘mendapatkan bersama kasih’. Nama tersebut diberikan oleh ayahnya pada masa penjajahan Jepang, dimana pada masa tersebut kehidupan sedang sulit-sulitnya. Kelahirannya diharapkan bisa “ mendapatkan kebahagiaan bersama kasih “.</p>



<p>Ayahnya bernama Jonathan Laba Nababan, Beliau merupakan putra dari seorang pedagang kerbau, Nathanael Nababan namanya. Sang kakek kemudian mengirim ayahnya ke Solo, perjalanan dari siborong-borong ke solo ditempuh lebih dari satu bulan pada saat itu. Terbayang bukan, bagaimana jauhnya? Sungguh sangat berbeda jika dibandingkan dengan sekarang, menggunakan pesawat terbang dapat ditempuh hanya dengan beberapa jam saja. Sang ayah menjalani pendidikan selama lima tahun disana. Banyak hal yang sering diceritakan, salah satunya adalah ketika ia bertemu dengan rombongan raja Solo di jalan. Karena Raja akan lewat semua warga berjongkok untuk menghormatinya, berbeda dengan ayahnya yang terus berdiri hingga ditegur oleh petugas keraton. Namun tetap tidak mau berjongkok, kepada petugas sang ayah mengatakan bahwa ia juga merupakan anak raja, Raja Nababan.</p>



<p>Cerita tersebutlah yang terus membekas dalam diri seorang Panda Nababan. Kisah tersebut membuatnya tersadar dan membentuk cara pandang dan sikapnya terhadap sesama manusia. Bahwa semua manusia adalah sama dan sederajat, apa pun suku, bahasa, status, dan latar belakangnya.</p>



<h3 class="wp-block-heading">Mencerdaskan Kampung Halaman.</h3>



<p>Lulus dari pendidikannya pada tahun 1925, Laba Nababan mengajar di kota perkebunan tembakau. Sempat diajak untuk mengajar ke Batavia, namum ia memilih pulang ke Tapanuli untuk mencerdaskan orang Batak di kampung halamannya. Kemudian mengajar di HIK Sipoholon, Tarutung. Pada saat itu usianya baru mengijak 20 tahun. Namun sang ayah ( Laba Nababan ) sudah menjadi sosok guru yang sangat disegani, berwibawa, dan terkenal dalam menegakkan disiplin. Ayah dan ibunda Panda selalu mengajarkan sikap yang toleran, menghargai sesama, hemat, dan bertanggung jawab.</p>



<p>Tak sedikit muridnya yang kini menjadi tokoh ternama seperti, Mr. J.T.C. Simorangkir ( Salah seorang pendiri harian Sinar Harapan ), A.E Manihuruk ( Mantan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara ), dan Kolonel Mauludin Simbolon ( salah seorang pemimpin Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, PRRI, yang melawan pemerintahan Soekarno ).</p>



<p>Di Lembaga Pendidikan HIK Sipoholon, ayah dan ibunya kemudian bertemu, menjalin hubungan kemudian menikah. Melahirkan sebelas anak termasuk Panda Nababan. Ibunya bernama Erna Intan Dora Lumbang Tobing, merupakan seorang anak Pendeta yang disekolahkan oleh ayahnya di usianya yang ke 14 pada tahun 1912. “ Kalau kau tidak sekolah, Perempuan Batak akan jadi bodoh terus. Jadi, kau harus sekolah “ seperti itulah yang dikatakan oleh ayahnya. Hingga di usia 17 tahun ia sudah menjadi seorang guru.</p>



<p>Erna Intan Dora Lumbang Tobing merupakan sosok guru wanita yang pandai dalam ragam tulisan dan bahasa. Mahir menggunakan huruf dan tulis-tulisan arab gundul, aksara pegon. Lancar membaca teks melayu beraksara pegon, ia bahkan fasih berbahasa Minang. Sama seperti sang ayah, ibunya juga kembali ke Balige untuk mencerdaskan kaum perempuan di Tapanuli.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.nababanfoundation.org/sepasang-guru-muda-idealis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Keluarga Nababan</title>
		<link>https://www.nababanfoundation.org/sejarah-keluarga-nababan/</link>
					<comments>https://www.nababanfoundation.org/sejarah-keluarga-nababan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Martin Nababan]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2022 10:14:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.nababanfoundation.org/?p=3598</guid>

					<description><![CDATA[Nababan adalah salah satu marga dari Suku Batak yang diwariskan dari garis keturunan bapak secara turun temurun. Nababan pertama adalah anak ketiga dari Toga Sihombing yang mempunyai anak laki-laki sebagai berikut :&#160; 1. Silaban gelar Borsak Junjungan 2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur 3. Nababan gelar Borsak Mangatasi 4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan. TURI-TURIAN MARGA NABABAN [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Nababan adalah salah satu marga dari Suku Batak yang diwariskan dari garis keturunan bapak secara turun temurun. Nababan pertama adalah anak ketiga dari Toga Sihombing yang mempunyai anak laki-laki sebagai berikut :&nbsp;</p>



<p>1. Silaban gelar Borsak Junjungan</p>



<p>2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur</p>



<p>3. Nababan gelar Borsak Mangatasi</p>



<p>4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan.</p>



<p>TURI-TURIAN MARGA NABABAN</p>



<p>Asal nama marga Nababan diyakini berasal dari kata BABA=Mulut, “BABA, Na-Baba-An = si baba on” sibabaon artinya adalah harus si tuntun berbicara, harus di ajari berbicara. Kemungkinan Nababan sulit mengutarakan sesuatu dengan lugas/lancar atau Nababan pada waktu itu adalah pelupa sehingga harus berulang-ulang untuk mengucapkan sesuatu.</p>



<p>Menurut cerita setelah Nababan tumbuh dewasa, ia disuruh oleh orang tuanya untuk mencari teman hidupnya, namun ia tidak tahu harus mengatakan apa pada perempuan yang akan ditemuinya, kemudian dia meminta pada ibunya untuk mengajarkannya.</p>



<p>“Ale boru ni rajanami lomo do rohamu marnida ahu, asa hu alu-aluhon tu natorashu” demikian ibunya mengajarinya. Artinya kira-kira adalah “halo adinda apakah engkau mencintai aku?, jika ya aku akan memberitahukan orang tuaku”.</p>



<p>Kemudian Nababan berangkat mencari wanita idamannya, namun di tengah perjalanan ia selalu lupa dan berulang-ulang kembali pada ibunya untuk meminta diajarkan kembali dan setiap ia kembali pada ibunya ia selalu di ajarkan kata yang sama tetapi ia tetap lupa, sehingga ibunya marah, tetapi ibunya juga merasa lucu dengan tingkah anaknya dan sambilnya tersenyum ibunya mengatakan “ha,ha, ha, nimmu do pe!, si baba-baba an do ho, songon tangke, asa Sibabaan nama goarmu” kira kira artinya, “ha, ha, ha!, ngomong apa sich?, kok ngomong gitu aja gak bisa”, Note : kata na-baba-an disini tidak bisa diartikan dalam bahasa Indonesia.</p>



<p>Kira kira demikian borsak mangatasi memiliki nama NABABAN, unik memang tetapi ini hanya cerita turun-temurun, benar atau tidaknya tidak bisa dibuktikan.&nbsp;</p>



<p>Nomor silsilah Nababan atau Borsak Mangatasi adalah nomor 1 yang kemudian dilanjutkan anaknya dengan nomor 2, cucu nomor 3 dan seterusnya. Dari data yang telah dikumpulkan, tarombo Nababan hingga kini telah mencapai Nomor 20.</p>



<p>Pada awalnya, bapak dari Borsak Mangatasi yaitu Toga Sihombing bermukin di Pulau Samosir. Kemudian beliau pindah membawa keempat anaknya ; Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit ke daerah Tipang, seberang Danau Toba.</p>



<p>Lokasi tersebut terletak di pinggir pantai, selatan Danau Toba dan tidak jauh dari Bakkara &#8211; Tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja. Keluarga Sihombing dengan cepat bertumbuh di Tipang sehingga seiring berjalannya waktu, sebagian keturunannya mulai melakukan migrasi ke daerah &#8211; daerah sekitarnya dan berpencar &#8211; pencar. Khususnya keturunan Nababan, awalnya mendirikan kampung di Sipultak yaitu Oppu Domi Raja, kemudian pindah ke Balige, kemudian pindah ke Balige, kemudian kembali lagi ke Sipultak hingga menyebar di berbagai daerah dataran tinggi Humbang.</p>



<p>Selama beberapa abad, seiring dengan pertumbuhan keturunan Nababan, mulailah migrasi ke berbagai daerah terjadi. Pada masa perang kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Nababan makin meningkat ke daerah Sidikalang Dairi, Kotacane, Aceh Tenggara, Desa Silangkitang Pahae Jae, Hitetano Porsea dan ke daerah lainnya di Nusantara sehingga generasi &#8211; generasi paling akhir semakin menyebar di kota &#8211; kota besar di Indonesia bahkan hingga ke luar negri.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.nababanfoundation.org/sejarah-keluarga-nababan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ompu Sintua Nathanael Nababan</title>
		<link>https://www.nababanfoundation.org/ompu-sintua-nathanael-nababan/</link>
					<comments>https://www.nababanfoundation.org/ompu-sintua-nathanael-nababan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Martin Nababan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2022 23:35:19 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.nababanfoundation.org/?p=776</guid>

					<description><![CDATA[Ompung St.Nathanael Nababan yang gagah perkasa. Kenapa diyatakan gagah perkasa ? Pada masa itu dia Nathanael (lahir tahun 1863, tidak ada catatan tanggal dan bulan kelahirannya &#8211; meninggal 15 Juli 1930, dalam usia 67 Tahun) menjadi kaya raya, karena berhasil menangkapi kerbau liar di savana – praire Padang Lawas Tapanuli bagian Selatan Sumatera Utara yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ompung St.Nathanael Nababan yang gagah perkasa. Kenapa diyatakan gagah perkasa ? Pada masa itu dia Nathanael (lahir tahun 1863, tidak ada catatan tanggal dan bulan kelahirannya &#8211; meninggal 15 Juli 1930, dalam usia 67 Tahun) menjadi kaya raya, karena berhasil menangkapi kerbau liar di savana – praire Padang Lawas Tapanuli bagian Selatan Sumatera Utara yang berbatasan dengan Sumatera Barat.Butuh keahlian dan keberanian menghadapi para penyamun di tengah jalan rimba yang jauh itu.</p>



<p>Kemudian menjualnya ke pelabuhan Sibolga dan ke daerah Sumatera Timur. Di usia 30 &#8211; 40 tahun ekonominya sudah mapan dan pada awal 1920 an telah mampu menyekolahkan anaknya, Nahum sekolah Farmasi di Batavia (Jakarta) yang kelak menjadi Mantari Kesehatan (setingkat dibawah profesi dokter) dan anaknya satu lagi Jonathan Laba disekolahkan ke Solo yang kelak menjadi guru, Profesi yang pretisius ketika itu.</p>



<p>Adik bungsunya St.Gayus menjaga orang tua di kampung. Pada masa itu, pribumi yang mampu menyekolahkan anaknya ke Batavia dan Solo, adalah pribumi yang menjadi pegawai Kolonial Belanda atau Karyawan perusahaan Belanda , atau dari Kalangan Bangsawan. Tetapi Ompung Natanael ini adalah anak rakyat biasa tetapi petarung dan saudagar kerbau yang mampu menyekolahkan anaknya ke pulau Jawa.</p>



<p>Ompu Natanael sebagai Sintua sangat dekat kehidupan keluarganya dengan gereja dan kegiatan sosial. OmpuSt.Nathanael-br Hutasoit <br>Ompu Partabas punya anak yakni :<br>1) Emma Nababan -Hutasoit LUMBANPEA.<br>2) Rose Nababan -Lumban Toruan BAHAL BATU.<br>3) Nahum Nababan -br Hutasoit.<br>4) Rolina Nababan &#8211; Darius Sihombing BANUAALUHU.<br>5) Jonathan L Nababan-E.I.Dora Lumban Tobing.<br>6) Gayus Nababan &#8211; br Hutasoit.<br>7) Saulina Nababan-Tiobaja Hutasoit SIARO</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.nababanfoundation.org/ompu-sintua-nathanael-nababan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anak Raja</title>
		<link>https://www.nababanfoundation.org/anak-raja/</link>
					<comments>https://www.nababanfoundation.org/anak-raja/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Martin Nababan]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2022 22:37:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.nababanfoundation.org/?p=743</guid>

					<description><![CDATA[Tahun 1924 Jonathan Laba Nababan sekolah guru di “Christelyke School” Solo &#8211; Surakarta, pada saat itu masih kental tradisi kerajaan Mangkunegara yang memerintah kasunanan Surakarta. Ada peraturan dan tradisi dalam memberi hormat ke pada Raja dimana setiap warga/rakyat biasa harus jongkok dan mata menatap kebawah , sebagai tanda hormat. Pada suatu hari di Solo ada [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Tahun 1924 Jonathan Laba Nababan sekolah guru di “Christelyke School” Solo &#8211; Surakarta, pada saat itu masih kental tradisi kerajaan Mangkunegara yang memerintah kasunanan Surakarta. </p>



<p>Ada peraturan dan tradisi dalam memberi hormat ke pada Raja dimana setiap warga/rakyat biasa harus jongkok dan mata menatap kebawah , sebagai tanda hormat.</p>



<p>Pada suatu hari di Solo ada perayaan arak arakan kerajaaan Mangkunegara dan siswa Jonathan Laba Nababan sedang menyaksikan rombongan Raja melintas, maka segenap warga yang ada dipinggir jalan jongkok memberi hormat kepada Raja yang sedang melintas.</p>



<p>Tetapi saat itu Jonathan Laba tetap berdiri asyik menyaksikan parade tersebut. Tidak lama kemudian pengawal kerajaan datang menegur JL.Nababan. </p>



<p>Para pengawalan kerajaan menanyakan mengapa tidak jongkok memberi hormat kepada Raja , dengan tegas JL.Nababan menjawab bahwa dia juga anak raja di Batak.”Raja mana?”,tanya pengawal.”Raja Nababan!!” jawab JL Nababan, lalu para pengawal istana segera menghindar,membiarkan JL.Nababan tidak perlu jongkok kepada Rajanya.</p>



<p>Puluhan tahun kemudian peristiwa yg bersejarah ini diceritakan kepada keturunannya sebagai sikap egaliternya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://www.nababanfoundation.org/anak-raja/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
