Tahun 1924 Jonathan Laba Nababan sekolah guru di “Christelyke School” Solo – Surakarta, pada saat itu masih kental tradisi kerajaan Mangkunegara yang memerintah kasunanan Surakarta.
Ada peraturan dan tradisi dalam memberi hormat ke pada Raja dimana setiap warga/rakyat biasa harus jongkok dan mata menatap kebawah , sebagai tanda hormat.
Pada suatu hari di Solo ada perayaan arak arakan kerajaaan Mangkunegara dan siswa Jonathan Laba Nababan sedang menyaksikan rombongan Raja melintas, maka segenap warga yang ada dipinggir jalan jongkok memberi hormat kepada Raja yang sedang melintas.
Tetapi saat itu Jonathan Laba tetap berdiri asyik menyaksikan parade tersebut. Tidak lama kemudian pengawal kerajaan datang menegur JL.Nababan.
Para pengawalan kerajaan menanyakan mengapa tidak jongkok memberi hormat kepada Raja , dengan tegas JL.Nababan menjawab bahwa dia juga anak raja di Batak.”Raja mana?”,tanya pengawal.”Raja Nababan!!” jawab JL Nababan, lalu para pengawal istana segera menghindar,membiarkan JL.Nababan tidak perlu jongkok kepada Rajanya.
Puluhan tahun kemudian peristiwa yg bersejarah ini diceritakan kepada keturunannya sebagai sikap egaliternya.
