Sejarah Keluarga Nababan

Nababan adalah salah satu marga dari Suku Batak yang diwariskan dari garis keturunan bapak secara turun temurun. Nababan pertama adalah anak ketiga dari Toga Sihombing yang mempunyai anak laki-laki sebagai berikut : 

1. Silaban gelar Borsak Junjungan

2. Lumbantoruan gelar Borsak Sirumonggur

3. Nababan gelar Borsak Mangatasi

4. Hutasoit gelar Borsak Bimbinan.

TURI-TURIAN MARGA NABABAN

Asal nama marga Nababan diyakini berasal dari kata BABA=Mulut, “BABA, Na-Baba-An = si baba on” sibabaon artinya adalah harus si tuntun berbicara, harus di ajari berbicara. Kemungkinan Nababan sulit mengutarakan sesuatu dengan lugas/lancar atau Nababan pada waktu itu adalah pelupa sehingga harus berulang-ulang untuk mengucapkan sesuatu.

Menurut cerita setelah Nababan tumbuh dewasa, ia disuruh oleh orang tuanya untuk mencari teman hidupnya, namun ia tidak tahu harus mengatakan apa pada perempuan yang akan ditemuinya, kemudian dia meminta pada ibunya untuk mengajarkannya.

“Ale boru ni rajanami lomo do rohamu marnida ahu, asa hu alu-aluhon tu natorashu” demikian ibunya mengajarinya. Artinya kira-kira adalah “halo adinda apakah engkau mencintai aku?, jika ya aku akan memberitahukan orang tuaku”.

Kemudian Nababan berangkat mencari wanita idamannya, namun di tengah perjalanan ia selalu lupa dan berulang-ulang kembali pada ibunya untuk meminta diajarkan kembali dan setiap ia kembali pada ibunya ia selalu di ajarkan kata yang sama tetapi ia tetap lupa, sehingga ibunya marah, tetapi ibunya juga merasa lucu dengan tingkah anaknya dan sambilnya tersenyum ibunya mengatakan “ha,ha, ha, nimmu do pe!, si baba-baba an do ho, songon tangke, asa Sibabaan nama goarmu” kira kira artinya, “ha, ha, ha!, ngomong apa sich?, kok ngomong gitu aja gak bisa”, Note : kata na-baba-an disini tidak bisa diartikan dalam bahasa Indonesia.

Kira kira demikian borsak mangatasi memiliki nama NABABAN, unik memang tetapi ini hanya cerita turun-temurun, benar atau tidaknya tidak bisa dibuktikan. 

Nomor silsilah Nababan atau Borsak Mangatasi adalah nomor 1 yang kemudian dilanjutkan anaknya dengan nomor 2, cucu nomor 3 dan seterusnya. Dari data yang telah dikumpulkan, tarombo Nababan hingga kini telah mencapai Nomor 20.

Pada awalnya, bapak dari Borsak Mangatasi yaitu Toga Sihombing bermukin di Pulau Samosir. Kemudian beliau pindah membawa keempat anaknya ; Silaban, Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit ke daerah Tipang, seberang Danau Toba.

Lokasi tersebut terletak di pinggir pantai, selatan Danau Toba dan tidak jauh dari Bakkara – Tempat pemukiman Raja Sisingamangaraja. Keluarga Sihombing dengan cepat bertumbuh di Tipang sehingga seiring berjalannya waktu, sebagian keturunannya mulai melakukan migrasi ke daerah – daerah sekitarnya dan berpencar – pencar. Khususnya keturunan Nababan, awalnya mendirikan kampung di Sipultak yaitu Oppu Domi Raja, kemudian pindah ke Balige, kemudian pindah ke Balige, kemudian kembali lagi ke Sipultak hingga menyebar di berbagai daerah dataran tinggi Humbang.

Selama beberapa abad, seiring dengan pertumbuhan keturunan Nababan, mulailah migrasi ke berbagai daerah terjadi. Pada masa perang kemerdekaan, perpindahan keluarga-keluarga Nababan makin meningkat ke daerah Sidikalang Dairi, Kotacane, Aceh Tenggara, Desa Silangkitang Pahae Jae, Hitetano Porsea dan ke daerah lainnya di Nusantara sehingga generasi – generasi paling akhir semakin menyebar di kota – kota besar di Indonesia bahkan hingga ke luar negri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *